Seminggu Sebelum Menikah Mereka Berz!n4h, Tak di Sebagian Sangka Sesuatu Terjadi, Astaghfirullah …
“Saya cuma ingin sharing serta mohon doa supaya dikuatkan”, katanya waktu kami bertemu di satu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia menceritakan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Walau sesekali menyeka wajah serta mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia tambah lebih tangguh dari saya.
Kisahnya diawali dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, serta penuh dengan prestasi yang menyemangati bebrapa rekan. Kesyukurannya semakin komplit ketika prosesnya untuk menikah lancar serta mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik untuk detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.
Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi idaman semuanya sebayanya. Dia datang dari keluarga tokoh terpandang serta kaya raya, namun jelas tidak manja. Juga dikenal sebagai ‘pembesar’ di kelompok para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah sudah mengentas banyak kawan serta sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga umum, seadanya, serta bersahaja itu tidak yakin diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semua.
Tinggal sepekan lagi. Hari akad serta walimah itu tinggal tujuh hari mendekati, saat sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terperanjat saat si calon suami terlihat sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon rumah yang bakal mereka surgakan berbarengan. Angkahnya, ibunda si lelaki serta adik perempuannya bakal beserta agar batas syari’at tetaplah terjaga.
“’Afwan Ukhti, ibu serta adik tak jadi turut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, tutur ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal serta terasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat rekan Anti yang dapat mendampingi agar rencana hari ini tetap jalan? ”
“Sayangnya tak ada. ‘Afwan, semua tengah ada acara serta keperluan lain. Dapatkah ditunda? ”
“Masalahnya besok saya mesti pergi keluar kota untuk sekian hari. Sepertinya tak ada saat lagi. Bagaimana? ”
Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti sudi temani mereka. Namun bi-idzniLlah, di dalam jalan sang rekan ditelepon rekanan lain untuk satu keperluan yang katanya kritis serta darurat. “Saya menyesal biarkan turun di dalam perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jagalah sebaik-baiknya dengan duduk lain baris, dia di depan serta saya di belakang, saya insyaf, itu awal semuanya petakanya. Kami sangat memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah. ”
Ringkas narasi, mereka akhirnya mesti berdua saja meninjau rumah baru tempat nantinya surga cinta itu bakal di bangun. Rumah itu tidak besar. Namun asri dan nyaman. Tidak megah. Namun anggun dan teduh.
Waktu sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan pertolongan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian mengagumkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami lakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tidak tega memandang dia serta sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seseorang anak perempuan kecil.
“Kisahnya tidak berhenti hingga di situ”, lanjutnya sesudah agak tenang. “Pulang dari sana kami ada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami geram. Geram pada diri kami. Geram pada adik serta ibu. Geram pada kawan yang memaksa turun di jalan. Geram pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Terasa kotor. Terasa jijik. Saya selalu menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan bimbang. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami terasa hancur. ”
Serta kecelakaan itupun berlangsung. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Pas sepekan sebelum pernikahan.
“Setelah hampir empat bln. koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh mengonsumsi saat itu diperberat oleh berita yang awalnya saya bingung mesti mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perz!n4an terdosa itu membuahkan karunia. ” Saya takjub pada pilihan tuturnya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tidak mudah untuk mengucap itu untuk orang yang terluka oleh dosa.
“Yang lebih bikin saya terasa langit runtuh serta bumi menekan adalah”, tuturnya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, bapak dari anak saya, meninggal ditempat dalam kecelakaan itu. ”
“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang saat ini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, pemberi tanda dosa yang harus di cintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang mengikuti kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang sesudah ujian.
“Doakan saya kuat Ustadz”, katanya. Mendadak, panggilan “Ustadz” itu merasa menyengat saya. Sergapan rasa tidak layak terasanya melumuri semua badan. Bagaimana saya bakal berbicara dihadapan seseorang yang demikian tegar memikul semuanya derita, bahkan juga saat keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya demikian rupa. Saya masihlah bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya serta terhormat itu, menyampaikan, “Bagaimana kami dapat yakin kalau itu cucu kami serta bukanlah hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang bikin putra kami tersayang wafat lantaran frustrasi? ”
“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan serta kesabaran saya atas ujian ini tidak beralih jadi kekerasan hati serta tidak tahu malu. Serta mudah-mudahan sesal serta taubat ini tidak menghambat saya dari menyukai anak itu sepenuh hati. ” Aduhai, surga masihlah jauh. Bahkan juga pinta doanya juga mengagumkan.
Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang melakukan perbaikan diri dengan sepenuh hati. Bersihkan dia dari dosa-dosa saat lantas dengan kesabarannya melalui hari-hari berbarengan sang buah hati. Allah, balasi setiap kegigihannya menyukai pemberi tanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu serta di segi beberapa orang beriman. Allah, sebab ayahnya sudah Kau panggil, kami titipkan anak manis serta shalihah ini kedalam pengasuhanMu nan Maha Rahman serta Rahim.
Allah, janganlah juga ijinkan hati kami sesedikit apa pun mengejek jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kalimat Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang senantiasa menginsyafkan kami. “Sejak dahulu kami menyetujui”, catat beliau, “Bahwa bila seorang mengejek saudara mukminnya atas satu dosa, dia takkan mati hingga Allah mengujinya dengan dosa yang seumpama dengannya. ”
Mari menjadikan cerita di bawah ini sebagai pelajaran, tidak untuk bermudah-mudahan dalam berhubungan dengan lawan type. Apa pun keadaannya. Bagaimanapun langkahnya. Ditambah lagi dengan bumbu “ta’aruf syar’i”, “khitbah”, tetapi tanpa ada diiringi dengan pengetahuan yang benar dalam aplikasinya? Syaithan demikian semangatnya dalam menggelincirkan manusia. Jika yang memiliki loabel “aktivis dakwah” saja tergelincir dalam tipu muslihatnya, bagaimanatah lagi dengan kami yang sebatas memiliki loabel ‘orang awam”?
Sumber : Buku ‘Menyimak Kicau Merajut Makna’ ust. Salim A. Fillah, dikisahkan cerita sama berdasar pada pembicaraan si perempuan pada beliau. Judul asli, ‘Mencintai Pemberi tanda Dosa’, Hidayatullah, yhougam, akhwat muslimah
Kisahnya diawali dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, serta penuh dengan prestasi yang menyemangati bebrapa rekan. Kesyukurannya semakin komplit ketika prosesnya untuk menikah lancar serta mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik untuk detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.
Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi idaman semuanya sebayanya. Dia datang dari keluarga tokoh terpandang serta kaya raya, namun jelas tidak manja. Juga dikenal sebagai ‘pembesar’ di kelompok para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah sudah mengentas banyak kawan serta sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga umum, seadanya, serta bersahaja itu tidak yakin diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semua.
Tinggal sepekan lagi. Hari akad serta walimah itu tinggal tujuh hari mendekati, saat sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terperanjat saat si calon suami terlihat sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon rumah yang bakal mereka surgakan berbarengan. Angkahnya, ibunda si lelaki serta adik perempuannya bakal beserta agar batas syari’at tetaplah terjaga.
“’Afwan Ukhti, ibu serta adik tak jadi turut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, tutur ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal serta terasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat rekan Anti yang dapat mendampingi agar rencana hari ini tetap jalan? ”
“Sayangnya tak ada. ‘Afwan, semua tengah ada acara serta keperluan lain. Dapatkah ditunda? ”
“Masalahnya besok saya mesti pergi keluar kota untuk sekian hari. Sepertinya tak ada saat lagi. Bagaimana? ”
Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti sudi temani mereka. Namun bi-idzniLlah, di dalam jalan sang rekan ditelepon rekanan lain untuk satu keperluan yang katanya kritis serta darurat. “Saya menyesal biarkan turun di dalam perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jagalah sebaik-baiknya dengan duduk lain baris, dia di depan serta saya di belakang, saya insyaf, itu awal semuanya petakanya. Kami sangat memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah. ”
Ringkas narasi, mereka akhirnya mesti berdua saja meninjau rumah baru tempat nantinya surga cinta itu bakal di bangun. Rumah itu tidak besar. Namun asri dan nyaman. Tidak megah. Namun anggun dan teduh.
Waktu sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan pertolongan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian mengagumkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami lakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tidak tega memandang dia serta sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seseorang anak perempuan kecil.
“Kisahnya tidak berhenti hingga di situ”, lanjutnya sesudah agak tenang. “Pulang dari sana kami ada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami geram. Geram pada diri kami. Geram pada adik serta ibu. Geram pada kawan yang memaksa turun di jalan. Geram pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Terasa kotor. Terasa jijik. Saya selalu menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan bimbang. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami terasa hancur. ”
Serta kecelakaan itupun berlangsung. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Pas sepekan sebelum pernikahan.
“Setelah hampir empat bln. koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh mengonsumsi saat itu diperberat oleh berita yang awalnya saya bingung mesti mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perz!n4an terdosa itu membuahkan karunia. ” Saya takjub pada pilihan tuturnya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tidak mudah untuk mengucap itu untuk orang yang terluka oleh dosa.
“Yang lebih bikin saya terasa langit runtuh serta bumi menekan adalah”, tuturnya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, bapak dari anak saya, meninggal ditempat dalam kecelakaan itu. ”
“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang saat ini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, pemberi tanda dosa yang harus di cintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang mengikuti kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang sesudah ujian.
“Doakan saya kuat Ustadz”, katanya. Mendadak, panggilan “Ustadz” itu merasa menyengat saya. Sergapan rasa tidak layak terasanya melumuri semua badan. Bagaimana saya bakal berbicara dihadapan seseorang yang demikian tegar memikul semuanya derita, bahkan juga saat keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya demikian rupa. Saya masihlah bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya serta terhormat itu, menyampaikan, “Bagaimana kami dapat yakin kalau itu cucu kami serta bukanlah hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang bikin putra kami tersayang wafat lantaran frustrasi? ”
“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan serta kesabaran saya atas ujian ini tidak beralih jadi kekerasan hati serta tidak tahu malu. Serta mudah-mudahan sesal serta taubat ini tidak menghambat saya dari menyukai anak itu sepenuh hati. ” Aduhai, surga masihlah jauh. Bahkan juga pinta doanya juga mengagumkan.
Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang melakukan perbaikan diri dengan sepenuh hati. Bersihkan dia dari dosa-dosa saat lantas dengan kesabarannya melalui hari-hari berbarengan sang buah hati. Allah, balasi setiap kegigihannya menyukai pemberi tanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu serta di segi beberapa orang beriman. Allah, sebab ayahnya sudah Kau panggil, kami titipkan anak manis serta shalihah ini kedalam pengasuhanMu nan Maha Rahman serta Rahim.
Allah, janganlah juga ijinkan hati kami sesedikit apa pun mengejek jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kalimat Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang senantiasa menginsyafkan kami. “Sejak dahulu kami menyetujui”, catat beliau, “Bahwa bila seorang mengejek saudara mukminnya atas satu dosa, dia takkan mati hingga Allah mengujinya dengan dosa yang seumpama dengannya. ”
Mari menjadikan cerita di bawah ini sebagai pelajaran, tidak untuk bermudah-mudahan dalam berhubungan dengan lawan type. Apa pun keadaannya. Bagaimanapun langkahnya. Ditambah lagi dengan bumbu “ta’aruf syar’i”, “khitbah”, tetapi tanpa ada diiringi dengan pengetahuan yang benar dalam aplikasinya? Syaithan demikian semangatnya dalam menggelincirkan manusia. Jika yang memiliki loabel “aktivis dakwah” saja tergelincir dalam tipu muslihatnya, bagaimanatah lagi dengan kami yang sebatas memiliki loabel ‘orang awam”?
Sumber : Buku ‘Menyimak Kicau Merajut Makna’ ust. Salim A. Fillah, dikisahkan cerita sama berdasar pada pembicaraan si perempuan pada beliau. Judul asli, ‘Mencintai Pemberi tanda Dosa’, Hidayatullah, yhougam, akhwat muslimah
Seminggu Sebelum Menikah Mereka Berz!n4h, Tak di Sebagian Sangka Sesuatu Terjadi, Astaghfirullah …
Reviewed by Unknown
on
20.04
Rating:
Reviewed by Unknown
on
20.04
Rating:

Tidak ada komentar